Hajatan akbar demokrasi lima tahunan untuk menghantarkan beberapa warga negara sebagai wakilnya sebentar lagi akan di helat, tepatnya pada 9 April 2014. Pada tanggal tersebut, masyarakat yang telah terdaftar sebagai pemilih tetap akan menggunakan haknya, meskipun ada saja yang tidak berkesempatan untuk turut serta dalam pesta demokrasi tersebut. Apabila kita mengelompokkan pemilih pada tanggal 9 April 2014 mendatang, maka minimal terdapat 3 kelompok. Pertama, mereka yang secara sadar menggunakan hak pilih dengan menentukan satu partai politik atau calon legislatif sehingga suara dianggap sah. Kedua, mereka yang tidak bisa menggunakan hak pilihnya karena ada beberapa kendala teknis. Ketiga, mereka yang secara sadar untuk tidak menggunakan hak pilih meskipun tidak ada kendala teknis, bisa dengan tidak hadir di TPS ataupun hadir di TPS namun suaranya dibuat gugur. Di masyarakat, golongan yang ketiga ini lebih dikenal dengan istilah Golput (Golongan Putih). Tepatkah golongan ketiga tersebut disebut Golongan Putih (Golput)?
Istilah golput muncul pada saat era orde baru dengan 3 partai politik yang ada. Dimana ketiga partai politik tersebut menggunakan warna dasar yang berbeda. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menggunakan warna hijau. Golongan Karya (Golkar) memilih warna kuning. Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menetapkan merah sebagai warna pilihan. Terdapat sebagian warga masyarakat yang merasa tidak ada satu partai pun yang sreg dihati dengan berbagai faktor penyebab. Pada era orde baru hampir tidak ada celah untuk membentuk partai poliitik baru. Akhirnya, golongan yang merasa tidak puas dengan keberadaan 3 partai politik yang ada kemudian menggunakan warna putih sebagai simbol perjuangannya. Mereka secara sadar memilih untuk tidak memilih dalam proses demokrasi dengan menamakan dirinya golongan putih.
Golput Era Multi Partai
Tidak terdapat larangan menenetukan satu warna tertentu sebagai simbol perjuangan. Termasuk menggunakan warna putih, untuk ‘menolak’ warna hijau, kuning, dan merah. Namun, pada era reformasi terdapat beberapa partai politik dengan sejumlah warna yang digunakan. Selain hijau, kuning, merah, terdapat warna lain misalnya biru dan putih. Lantas, bagaimakah golput dalam era multi partai?
Meskipun dalam era multi partai, tetap ada sekelompok orang yang tidak puas dengan partai yang ada. Dan, golongan yang tidak akan menggunakan hak pilihnya pun tetap ada. Salahkan mereka? Belum tentu!. Setiap warga negara punya hak, untuk menggunkan atau tidak hak pilihnya.
Kalau saya lebih nyaman untuk menyebut mereka yang secara sadar tidak menggunakan hak pilihnya bukan dengan sebutan golongan putih. Kenapa? Karena didalam masyarakat, pasangan warna putih adalah hitam, dimana putih identik dengan kebaikan dan hitam untuk menunjukkan sesuatu yang tidak baik. Berarti ketika yang tidak memilih menamakan dirinya golongan putih maka yang memilih bisa dianggap sebagai golongan hitam. Tidak bisa demikian bukan? Sehingga dalam era multi partai, golongan putih tidak bisa digunakan untuk menyebut mereka yang secara sadar tidak menggunakan hak pilihnya. Karena warna partai politik yang ada saat ini tidak hanya hijau, kuning, dan merah, tetapi warna dominan putih juga hadir.
Golput itu Baik
Pada era multi partai, istilah golput secara perlahan harus diubah maknanya. Dari sebutan untuk mereka yang tidak mau menggunakan hak pilihnya kearah sebutan untuk mereka yang mau memilih partai politik dan caleg yang bersih. Mungkin, semua pemilih menganggap bahwa saat ini tidak ada lagi partai politik yang putih bersih tanpa noda. Semua partai politik ‘mengirimkan’ kadernya untuk berurusan dengan KPK. Anggapan tersebut benar 100%!. Kita semua paham, tidak ada manusia yang terbebas dari khilaf. Tapi kita merasa senang kepada sahabat yang paling sedikit berbuat khilaf bukan?
Masih banyak pemilih yang ragu untuk memutuskan penggunaan hak pilihnya. Keraguan tersebut didasari karena selama lima tahun selepas pemilu 2009 tidak merasakan adanya perbaikan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sesuai harapan. Selain itu, ada juga yang merasa tidak ada satupun caleg yang mereka kenali. Apapun yang terjadi kita tetap harus menggunakan hak pilih kita secara bijak karena akan menentukan perjalanan bahtera Indonesia selama lima tahun kedepan.
Ketika kita masih bimbang tentang pilihan pada 9 April 2014 mendatang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Misalnya dengan memanfaatkan makna CINTA. Bagaimanakah cinta bisa kita jadikan sarana untuk memantapkan pilihan dan mengahadirkan perbaikan negeri? Mari kita urai. Cinta merupakan rangkaian lima huruf yang berbeda. C-I-N-T-A: Cari informasi; Ikhlas memilih; Niteni; Tawakal; Ajak orang lain.
Pertama, Cari informasi. Apabila kita masih ragu untuk memilih karena tidak mengenal partai dan caleg yang ada, maka kita harus berusaha untuk menacari informasi. Informasi bisa diperoleh dari berbagai cara dan sumber. Misalnya aktif membaca berita dari banyak media, sebaiknya tidak hanya mengikuti satu atau dua media. Semakin banyak maka akan semakin sempurna dan obyektif informasi yang kita dapatkan. Selain itu, bisa mendatangi kantor partai politik untuk menggali informasi. Tentunnya banyak yang merasa repot. Akan tetapi keengganan untuk mencari informasi menjadi salah satu penyebab kita salah pilih dan akhirnya membawa bahtera Indonesia sering menghadapi badai.
Kedua, Ikhlas memilih. Jangan sampai kebimbangan kita dimanfaatkan oleh partai politik dan caleg untuk ‘membeli’ suara kita. Bisa jadi, ada iming-iming yang akan kita terima apabila kita memilih partai atau caleg tertentu. Padahal kita belum mengenal dengan baik rekam jejak partai pengusung ataupun caleg yang bersangkutan. Nah, pemberian iming-iming ini yang akan membuat kita dihadapkan pada suatu masalah. Biaya besar partai dan caleg yang sudah dikeluarkan, maka mereka pun akan berupaya untuk menarik kembali dana yang telah dikeluarkan dengan berbagai cara. Mari kita ikhlas untuk memilih tanpa pamrih selain untuk kebaikan negeri.
Ketiga, Niteni. Jas merah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tentunya, setiap partai menghadirkan beberapa catatan yang perlu kita baca kembali. Baik itu kebaikan ataupun keburukan. Penulis yakin, partai dan caleg pernah melakukan kebaikan dan keburukan yang tercatat dalam memori ingatan kita. Ketika kita dihadapkan pada beberapa pilihan kebaikan dan diminta memilih salah satu, maka kita akan memilih yang paling baik bukan? Sama dengan memilih partai. Mari kita lihat kebaikan-kebaikan yang pernah dilakukan oleh partai-partai yang ada. Kita jatuhkan pilihan pada partai yang paling banyak melakukan kebaikan, paling banyak melakukan kepedulian. Sepanjang waktu, bukan sebatas beberapa bulan terakhir saja, apalagi sebatas beberapa hari belakangan ini.
Ketika kita disuguhi beberapa keburukan, dan diminta memilih salah satu maka kita akan memilih yang paling sedikit melakukan keburukan (kesalahan) bukan? Sama halnya dengan memilih partai. Mari kita pilih yang paling sedikit melakukan kesalahan kepada rakyat. Kesalahan bisa berupa korupsi ataupun kebijakan yang menyulitkan kita.
Keempat, Tawakal. Setelah mulai ada titik cerah pilihan kita, maka selanjutnya semuanya kita serahkan kepada Yang Maha Pengatur. Kita berharap semoga kemantapan terhadap satu pilihan merupakan pilihan terbaik, dan akan menghadirkan kebaikan bagi bangsa Indonesia.
Kelima, Ajak orang lain. Kita menginginkan apa yang kita pilih akan memenangi ‘pertarungan’ bukan? Maka kemantapan terhadap satu pilihan jangan hanya untuk diri kita. Mari kita ajak orang lain untuk turut serta memenangkan pilihan kita. Supaya apa yang kita yakini bahwa partai dan caleg pilihan mampu mengemban amanah untuk melakukan perbaikan negeri bisa betul-betul memangku amanah tersebut. Kita tidak menginginkan partai dan caleg terbaik menurut kita akan tergusur oleh partai dan caleg lain bukan?
Ternyata golput itu baik, yaitu golongan yang memilih partai dan caleg putih (bersih-red) bukan lagi golongan yang memilih untuk tidak memilih. Sukseskan golput untuk perbaikan negeri. Kita pertegas kembali, mari kita ajak keluarga dan orang-orang yang belum mempunyai pilihan untuk turut serta dalam barisan Golput, yaitu golongan yang memilih partai dan caleg putih (bersih-red). Dan, Indonesia maju bukan hanya mimpi. Semoga. Salam Cinta. Wallahua’alam.
R[S]J

0 komentar:
Posting Komentar