Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2020

Anak Stres Belajar di Rumah? Ini Tips dari "Sekolah Lawan Corona"

No comments
Pandemi Covid-19 dengan jumlah kasus yang terus bertambah membuat Dinas Pendidikan di sejumlah wilayah memperpanjang waktu pembelajaran jarak jauh (online) hingga waktu yang belum dapat ditentukan.

Walau bertujuan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19, sayangnya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima banyak pengaduan terkait dengan anak-anak yang stres akibat pembelajaran jarak jauh.

"Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan sejumlah orangtua siswa yang mengeluhkan anak-anak mereka malah stres karena mendapatkan berbagai tugas setiap hari dari para gurunya," papar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti dalam keterangan tertulis, Rabu (18/3/2020), mengutip dari akun media sosial Kampus Guru Cikal.

Kampus Guru Cikal bersama dengan Keluarga Kita, Komunitas Guru Belajar dan Sekolahmu yang tergabung dalam gerakan Sekolah Lawan Corona memaparkan sejumlah alasan mengapa anak bisa stres selama pembelajaran jarak jauh.

Berikut 5 hal penyebab anak menjadi stres:
1.     Murid hanya diminta merangkum materi pembelajaran.
2.     Tidak ada pengarahan cara penggunaan aplikasi media belajar digital.
3.     Murid diminta mengerjakan soal-soal di LKS dengan jumlah soal yang banyak.
4.     Murid tidak terlibat dalam perencanaan cara belajar.
5.     Hanya sekedar mengerjakan soal tanpa interaksi antara guru dan murid.

Bentuk pengajaran jarak jauh ramah anak.

Dengan pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan anak, semestinya pembelajaran jarak jauh tidak membuat anak stres. Justru, anak bisa tersemangati karena ia mempelajari banyak hal baru dengan cara berbeda dari biasanya.

Sekolah Lawan Corona melalui program "Temu Pendidik Spesial" yang diselenggarakan secara daring, Kamis (19/3/2020), memaparkan sejumlah solusi untuk guru maupun orangtua agar anak tak mudah stres saat belajar jarak jauh.

Dibawakan oleh Guru Febriandhini dari SMP Lazuardi Al Falah GIS dan Guru Choifah dari MA Walisongo serta dipandu Guru Yanuar dari Sekolah Cikal Surabaya, berikut 7 (tujuh) tip pengajaran ramah anak:
1.     Ciptakan kolaborasi antara anak dan orangtua dalam penugasan dan target belajar. Sehingga anak tak akan merasa belajar sendirian.
2.   Lakukan perbedaan konten, proses, produk, dan tenggat waktu pengumpulan tugas menyesuaikan dengan kondisi rumah dan lingkungan tiap-tiap anak. Orangtua bisa berkoordinasi dengan guru bila menemukan hambatan dalam pengerjaan tugas. Guru juga diharapkan solutif atas masalah tersebut.
3.   Variasikan aktivitas pembelajaran jarak jauh, baik daring maupun luring, sehingga anak tidak hanya merangkum dan mengerjakan soal setiap hari.
4.    Target pembelajaran jarak jauh bukanlah pengumpulan tugas semata, tetapi juga menanamkan kebiasaan belajar di mana saja.
5.     Buka akses komunikasi di banyak jaringan, dengan pesan WAG, konferensi video atau kunjungan rumah, dengan partisipasi orangtua, murid, maupun pengasuh di rumah.
6.     Koordinasi dengan guru-guru yang lain apakah ada tugas yang bisa diintegrasikan dan tenggat waktu tugas mana yang perlu diprioritaskan.
7.     Hubungkan materi pelajaran dengan kegiatan anak membantu orangtua di rumah, sehingga tidak hanya kebiasaan belajar yang ditanamkan, tetapi juga mendekatkan orangtua dengan anak.

Senin, 31 Maret 2014

Membangun(kan) Pondasi Literasi di Sekolah

No comments
Secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Namun dalam perkembangannya, literasi tidak hanya sebatas kemampuan membaca tulisan dan menulis (ulang) tulisan. Akan tetapi, pemahaman dari membaca kemudian ‘diamalkan’ sehingga menghadirkan kemanfaatan untuk masyarakat. Mengingat begitu pentingya literasi, maka budaya literasi perlu ditumbuhkembangkan.

Sekolah merupakan salah satu institusi yang tepat untuk memulai membangun budaya literasi. Alasannya, warga sekolah merupakan kumpulan golongan terdidik dan calon pemimpin masa depan. Jika budaya literasi mulai terbangun di sekolah, maka akan berdampak hebat. Bagi guru, kebiasaan copy paste perangkat pembelajaran, media pembelajaran, dan modul pembelajaran akan mulai luntur. Wawasan guru akan meningkat, sehingga akan menambah ketertarikan siswa mengikuti pelajaran.

Bagi siswa, terkondisikan untuk gemar membaca dan menulis. Harapannya, kabar prestasi akan mulai mewarnai pemberitaan menggantikan kabar tawuran dan kekerasan. Untuk membangun budaya literasi, sekolah harus bisa membangun pondasi literasi terlebih dahulu dengan cara menumbuhkan minat membaca, menulis, dan berbicara. Menurut penulis, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh. Mari kita urai bersama.

Minat membaca akan muncul ketika ada bacaan yang menarik. Sehingga, sekolah perlu senantiasa memperbaharui koleksi buku bacaan di perpustakaan sesuai yang diinginkan warga sekolah. Selain itu, perlu berlangganan aneka surat kabar dan majalah untuk menambah wawasan kekinian warga sekolah. Sangat bagus apabila sekolah menyediakan perangkat untuk akses internet secara gratis, misalnya di perpustakaan.

Dapat kita ibaratkan, membaca adalah menerima dan menulis adalah memberi. Sehingga, setelah banyak menerima diharapkan ada keinginan untuk memberi. Cara menumbuhkan minat memberi (baca: menulis) siswa, guru perlu membiasakan memberi soal ulangan berbentuk uraian karena akan merangsang siswa untuk terbiasa menulis. Cara lain, guru Bahasa Indonesia atau wali kelas memberikan tugas membuat majalah dinding bulanan setiap kelas. Selanjutnya, guru memberikan penghargaan kepada siswa yang berpartisipasi menyumbangkan tulisan.

Menjadi terlihat lebih bijak ketika guru juga (memulai) gemar membaca dan menulis. Misalnya, guru turut serta menghasilkan majalah diding ataupun koran dinding. Sehingga guru dapat memotivasi siswa dengan memberikan keteladanan. Jika memungkinkan, pihak sekolah membuat kebijakan memberikan penghargaan material (seberapapun nilainya) kepada warga sekolah yang mampu membuat tulisan dan dimuat di media massa. Banyak rubrik untuk guru dan siswa, misalnya Pendapat Guru, Swara Guru, Puisi dan Rubrik Kaca di SKH Kedaulatan Rakyat. Dengan penghargaan, akan memantik semangat untuk memulai mencoba berkarya melaluli tulisan.

Selanjutnya, kemampuan berbicara perlu ditumbuhkembangkan. Metode diskusi dan tanya jawab dapat dipilih dalam rangka memunculkan keberanian siswa menyampaikan pendapat (secara lisan) didepan orang lain. Semoga generasi cerdas, kritis, berwawasan luas akan lahir dan tumbuh berkembang setelah terbangunnya pondasi literasi di sekolah dengan baik, yakni minat membaca, menulis, dan berbicara.

R[S]J
Entries RSS Comments RSS

Waktu Kita

Terimakasih

Pages


Copyright © Catatan Pasien Rumah [Sehat] Jiwa
Powered by Blogger
Distributed By Free Blogger Templates | Design by N.Design Studio
Blogger Theme by Lasantha - PremiumBloggerTemplates.com